Pesepeda Pingsan 2 Kali di Jembatan Layang Kuningan, Bagaimana Cara Menolong yang Tepat?

Read Time:2 Minute, 17 Second

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dalam video yang dibagikan di Instagram, tampak seorang pengendara sepeda terjatuh tak sadarkan diri di perlintasan Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (4 Mei 2024). Dalam video tersebut terlihat pengendara sepeda yang disebut-sebut berkewarganegaraan asing itu baru saja mulai bersepeda, dalam kondisi sadarkan diri dan digendong seseorang sambil berdiri.

Tak butuh waktu lama, pria itu kembali tak sadarkan diri. Melihat kejadian tersebut, pengendara sepeda Yusuf Asmara yang sedang melintas memperhatikan kejadian tersebut dan langsung mengambil alih pertolongan pertama.

“Pastikan dalam kondisi fit saat bersepeda ya teman-teman,” tulis akun Instagram @Asmara_Yusuf saat mengunggah video tersebut, Senin (6/6/2024).

Banyak warganet yang menanggapi postingan tersebut. Ada yang mengaku pernah melihat kejadian serupa atau karena rombongan pengendara sepeda terkadang tidak mengenal pengguna sepeda lain, terutama yang masih pemula.

Jadi teringat mendiang kakak, memang benar bersepeda itu menuntut kebugaran, tulis @vya***.

“Terkadang orang tua memang mengancam anak muda,” kata @candr****.

“Seperti kasus kantor,” sahut yang lain.

Melalui kolom komentar, dr Nizma Anindya Adekita juga memberikan edukasi pertolongan pertama jika terjadi kejadian seperti unggahan akun @Asmara_Yusuf dan @jktsepeda. Ia menjelaskan, orang yang tidak sadarkan diri tidak boleh berdiri, melainkan berbaring.

Halo! Seperti yang saya sampaikan di akun pemilik video ini (mas @asmara_yusuf), pertolongan pertama yang dapat diberikan pada keadaan ini (tidak sadarkan diri atau hilang kesadaran) adalah dengan meletakkan pasien pada permukaan yang rata dan keras dan angkat kaki agar lebih tinggi dari jantung,” kata dr Nizma saat dikonfirmasi Republika.co.id, Senin (5 Juni 2024).

Dr Nizma menjelaskan, salah satu penyebab mati rasa (petir) yang paling umum adalah aliran darah ke area kepala yang tidak mencukupi. Penyebab lain juga bisa menjadi penyebabnya, misalnya kekurangan glukosa dalam darah.

Saat menemukan seseorang tidak sadarkan diri, lanjut dr Nizma, periksa apakah orang tersebut masih bernapas dan ada denyut nadinya. Jika keduanya aman (pernafasan dan denyut nadi ada, namun belum sadar), letakkan pada posisi stabil.

Jika terjadi henti napas atau jantung, segera hubungi bantuan. Lakukan resusitasi jantung paru (CPR) sambil memanggil ambulans. Dr Nizma juga mengingatkan kita untuk tidak memaksa minum orang yang belum kembali sadar penuh. Karena ada risiko tenggelam.

Jika orang tersebut sudah sadar, menurut dr Nizma, tetap perlu ke fasilitas kesehatan. Orang tersebut memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memprediksi efek jangka panjangnya.

Di kolom komentar postingan Asmara Yusuf, dr Nizma mengatakan, jika ada dugaan pernapasan terhenti, maka yang menolong bisa sedikit mengangkat kepala korban. Dalam kondisi seperti itu, organ yang menjadi prioritas untuk menjaga aliran darah adalah jantung dan otak.

“Akan lebih baik jika materi Basic Life Support (BHD) atau Basic Life Support (BLS) dimasukkan dalam kurikulum sekolah, misalnya di luar negeri, untuk menghindari kejadian ‘tidur sebenarnya’ atau ‘Paskah’ bagi pasien,” tulis dr. Nizma yang berpraktik di klinik Qirani Medical Center di Jakarta.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Pengprov GABSI Sumut Dilantik, Bridge Bidik Satu Emas di PON 2024
Next post 2023 Sukses Dilewati dengan Pengembangan Digitalisasi dan Perluasan Jaringan