Penderita Obesitas di Indonesia Bertambah Signifikan, Ternyata Ini Penyebabnya

Read Time:2 Minute, 19 Second

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia terus memperkuat upaya melawan isu obesitas, seiring kasus yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Kementerian Kesehatan RI menyebutkan penyebab utama obesitas di Indonesia adalah konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang berlebihan.

Perilaku masyarakat yang meningkatkan risiko terjadinya obesitas adalah kurang aktivitas fisik, kurang mengonsumsi buah dan sayur, serta konsumsi GGL yang berlebihan, kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI. Eva Susanti, pada perayaan Hari Obesitas Sedunia yang digelar di Nutri Food Jakarta, Senin (3/4/2024).

Ia menjelaskan, obesitas merupakan masalah global yang menimpa dua miliar orang di dunia dan mengancam kesehatan masyarakat, termasuk Indonesia. Dalam kurun waktu 10 tahun telah terjadi peningkatan obesitas yang signifikan di Indonesia, dari 10,5 persen pada tahun 2007 menjadi 21,8 persen pada tahun 2018, sehingga obesitas diidentifikasi sebagai penyakit yang memerlukan kedatangan secara interkom.

Obesitas merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit tidak menular seperti diabetes, jantung, kanker, darah tinggi, serta penyakit metabolik dan non metabolik lainnya. Selain itu juga menyumbang penyebab kematian akibat penyakit kardiovaskular (5,87 persen dari total kematian), diabetes, dan penyakit ginjal (1,84 persen dari total kematian).

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) tentang pencantuman informasi gula, garam, dan lemak pada makanan jadi dan siap saji, serta memberikan edukasi mengenai pentingnya peraturan tersebut. Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk memeriksa sejak dini faktor risiko penyakit tidak menular, dengan mengukur tinggi badan dan berat badan, serta memahami risiko konsumsi gula, garam, dan lemak.

“Saat ini kami juga sedang fokus pada gerakan masyarakat dalam rangka pencegahan dan pengendalian obesitas sebagai faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) dengan berupaya menyadarkan masyarakat Indonesia,” jelas Eva.

SMART merupakan singkatan dari pemeriksaan kesehatan rutin minimal setahun sekali dengan terdeteksi penyakit prioritas, Berhenti merokok, Olahraga berat minimal 30 menit setiap hari, Pola makan seimbang dengan menakar isi piring, Istirahat yang cukup dan kelola stres Sehat. “Dengan menerapkan pola Cerdic ini, kami berupaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat,” ujarnya.

Kementerian Kesehatan RI menyarankan agar masyarakat tidak mengonsumsi gula lebih dari 50 gram (setara 4 sendok makan) per hari, garam tidak lebih dari 5 gram (setara 1 sendok teh), dan garam tidak lebih dari 67 gram. Setara dengan 5 sendok makan). Dalam upaya mengetahui kandungan gula, garam, dan lemak pada pangan olahan dalam kemasan, kami mengimbau masyarakat untuk lebih cermat membaca label gizi pada kemasan pangan olahan, dengan memperhatikan keempat informasi nilai gizi tersebut ditemukan. pada label kemasan. Yaitu jumlah porsi per kemasan, total energi per porsi, zat gizi (lemak, lemak jenuh, protein, karbohidrat (termasuk gula), dan RDA (rasio kecukupan gizi) per porsi.

“Dalam upaya mengatasi masalah obesitas di Indonesia, Nutrifood telah memimpin kampanye #LimitGGL dan mendapat dukungan dari Kementerian Kesehatan RI dan Badan POM Indonesia sejak tahun 2013,” ujar Suzana, Head of Strategic Marketing Times Nutrifood.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post 7 Potret Seru Anya Geraldine Main Bareng Rusa di Kota Nara
Next post Jerome Polin Umumkan Waseda Boys Bubar, Kenapa?