Ini Alasan Dilarang Keras Nyetir Saat Mabuk, Bisa Hilangkan Nyawa

Read Time:2 Minute, 57 Second

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Mengemudi dalam keadaan mabuk dapat membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Misalnya, belum lama ini, seorang sopir taksi meninggal dunia ketika ditabrak oleh seorang siswa yang mabuk karena alkohol. Mengapa alkohol dapat sangat mengganggu kemampuan mengemudi mobil?

Secara umum alkohol merupakan senyawa yang bila diminum dapat menurunkan aktivitas otak, mengganggu kemampuan berpikir dan berpikir, serta mengganggu koordinasi otot. Menariknya, semua keterampilan tersebut diperlukan untuk mengoperasikan kendaraan dengan aman.

Saat Anda meminum alkohol, alkohol akan diserap langsung melalui dinding lambung dan usus kecil. Selanjutnya alkohol akan masuk ke dalam darah dan menumpuk hingga dimetabolisme oleh hati.

“Ketika kadar alkohol dalam darah seseorang meningkat, maka dampak negatifnya pada sistem saraf pusat akan meningkat,” jelas National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) melalui situs resminya, seperti dilansir Rabu (3/4/2024). .

Tingkat alkohol dalam darah seseorang dapat diukur dengan konsentrasi alkohol dalam darah (BAC). Risiko kecelakaan akibat mengemudi dalam keadaan mabuk meningkat pesat bila pengemudi memiliki BAC sama dengan atau lebih besar dari 0,08 gram alkohol per desiliter darah (g/dL).

Oleh karena itu, banyak negara yang menerapkan batas BAC yang lebih tinggi untuk pengemudi. Di 50 negara bagian Amerika Serikat, misalnya, seseorang dengan BAC 0,08 g/dL atau lebih tinggi dilarang mengoperasikan kendaraan. Juga di Utah, batas BAC maksimum untuk pengemudi adalah 0,05 g/dL.

Namun, bukan berarti pengemudi dengan BAC rendah bisa mengoperasikan kendaraannya dengan aman. Pada tahun 2021 di Amerika Serikat misalnya, terdapat 2.266 orang meninggal dalam kecelakaan akibat alkohol, dimana pengemudinya memiliki BAC antara 0,01 dan 0,07 g/dl. Di bawah ini adalah daftar gangguan mengemudi yang mungkin dialami oleh pengemudi dengan kadar alkohol dalam darah 0,02-0,15 g/dl:

1. BAC 0,02 g/dl : penurunan fungsi penglihatan dan penurunan kemampuan melakukan dua hal dalam waktu bersamaan. Pengemudi mungkin mulai mengalami perubahan suasana hati dan kehilangan kemampuan untuk menilai situasi.

2. BAC 0,05 g/dl: koordinasi kurang, kemampuan mengikuti sesuatu dengan cepat, kesulitan mengemudi dan kurang tanggap terhadap keadaan darurat. Pengemudi mungkin menunjukkan hiperaktif, gangguan kontrol otot (misalnya kesulitan fokus), dan penurunan kewaspadaan.

3. BAC 0,08 g/dl : gangguan konsentrasi, hilang ingatan jangka pendek, kesulitan mengendalikan kecepatan motorik, berkurangnya kemampuan memproses informasi, dan gangguan penglihatan. Gangguan koordinasi otot, kesulitan mengenali bahaya, berkurangnya kemampuan mengendalikan diri.

4. BAC 0,10 g/dL : Penurunan kemampuan manuver kendaraan di jalan dan kesulitan berhenti dengan benar. Pengemudi mungkin mengalami berkurangnya waktu reaksi dan kendali secara signifikan, ucapan tidak jelas, koordinasi yang buruk, dan pemikiran yang tertunda.

5. BAC 0,15 g/dl: Gangguan berat dalam mengemudi, kesulitan mendengar proses mengemudi, dan kesulitan memproses informasi visual dan suara Pengemudi dengan kelemahan otot yang parah, mungkin muntah dan kehilangan keseimbangan.

Hal serupa juga diumumkan Polisi Komunikasi Publik melalui situs resminya. Menurut Humas Polri, minuman beralkohol atau alkohol dapat menurunkan konsentrasi pengemudi saat berkendara sehingga menimbulkan kecelakaan.

Mengendarai mobil juga merupakan pelanggaran lalu lintas. Orang yang mengemudi dalam keadaan mabuk bisa dikenakan denda berdasarkan pasal 311 Undang-Undang Lalu Lintas Jalan Nomor 22 Tahun 2009 (LLAJ). Pasal 331 ayat 1 menyebutkan, barang siapa dengan sengaja mengemudikan kendaraan bermotor dengan cara atau keadaan yang membahayakan nyawa atau harta benda, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp 3.000.000,- (tiga juta rupee). .

Jika seorang pengemudi mabuk menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa seseorang, ia tidak dapat dituntut banyak hal. Misalnya, seorang pelajar dalam keadaan mabuk yang ditabrak pengendara sepeda motor hingga tewas, dapat melaporkan pelakunya berdasarkan pasal 310, 311, 312 ayat 4 UU Lalu Lintas Jalan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Ahli Gizi: Efek Buruk Junk Food Bersifat Jangka Panjang
Next post Wanita yang Sering Begadang dan Kurang Tidur Berisiko Sakit Jantung