Benarkah Duduk Lama Bisa Sebabkan Batu Ginjal? Ini Penjelasan Dokter

Read Time:2 Minute, 19 Second

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sekitar 1,5 juta orang di Indonesia menderita batu ginjal. Ada yang berpendapat bahwa duduk terlalu lama menjadi salah satu penyebab batu ginjal. mengapa itu benar

Dokter Spesialis Urologi ASRI Siloam Hospitals Profesor Dr Noor Rasiyid SpU(K) mengatakan obesitas merupakan salah satu faktor risiko batu ginjal. Prof Noor menjelaskan, obesitas merupakan suatu kondisi yang erat kaitannya dengan gaya hidup sedentary atau kurang berolahraga.

Saat tubuh jarang bergerak, kemungkinan batu ginjal terbentuk dan membesar semakin besar. Oleh karena itu, kemungkinan terjadinya batu ginjal lebih tinggi pada orang yang kelebihan berat badan dan orang yang memiliki gaya hidup kurang gerak.

Jadi bukan karena duduk, tapi kurang gerak, kata Prof Noor dalam diskusi media bersama Siloam Hospitals ASRI, Rabu (5/6/2024), Jakarta.

Selain obesitas, ada beberapa faktor lain yang juga meningkatkan risiko terjadinya batu ginjal. Berikut beberapa faktor risikonya:

1. Riwayat keluarga atau pribadi.

2. Dehidrasi, kurang minum air setiap hari.

3. Mengonsumsi makanan tertentu, seperti mengonsumsi makanan tinggi protein, natrium, atau garam dan gula.

4. Penyakit pencernaan dan pembedahan.

5. kondisi medis lain seperti asidosis tubulus ginjal, sistinuria, hiperparatiroidisme, dan infeksi saluran kemih berulang.

6. Konsumsi suplemen dan obat-obatan tertentu.

Di sisi lain, Profesor Noor mengatakan perubahan warna urin juga bisa dikaitkan dengan risiko batu ginjal. Namun, tidak semua perubahan warna urin dikaitkan dengan risiko ini.

Prof Noor mencontohkan perubahan warna urine akibat konsumsi makanan tertentu, suplemen vitamin, atau obat-obatan yang tidak berhubungan dengan risiko batu ginjal, asalkan yang bersangkutan minum cukup air. Risiko terjadinya batu ginjal biasanya dikaitkan dengan perubahan warna urin akibat kurang minum.

Misalnya (setelah mengonsumsi) vitamin C, warna urin berubah menjadi kuning. Kalau diminum cukup, itu baik (tidak berhubungan dengan risiko batu ginjal), kata Prof Noor.

Pemilihan terapi pada pasien batu ginjal akan didasarkan pada beberapa faktor. Beberapa faktor tersebut adalah ukuran batu ginjal, kekerasan batu ginjal, dan letak batu ginjal.

Secara umum, ada empat jenis terapi yang bisa diberikan pada pasien batu ginjal. Beberapa di antaranya termasuk pemberian obat, extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL), perkutan nefrolitotomi (PCNL), dan bedah intrarenal retrograde (RIRS).

“Pada dasarnya RIRS adalah prosedur pemecahan batu ginjal dengan menggunakan laser,” kata Profesor Noor.

RIRS adalah prosedur invasif minimal yang dilakukan menggunakan ureteroskop atau teropong fleksibel melalui saluran kemih untuk menemukan batu ginjal. Setelah menemukan batu ginjal, dokter akan memecah batu tersebut dengan laser.

RIRS dapat dilakukan pada batu ginjal yang berukuran kurang dari 3 cm, batu dengan sensitivitas tinggi (sensitivitas batu lebih besar dari 1000 unit Hounsfield), kata Prof Noor.

Keuntungan prosedur RIRS adalah tidak memerlukan sayatan pada tubuh, proses pemulihan lebih singkat, nyeri minimal, dan risiko infeksi lebih kecil. Selain itu, proses pembersihan batu ginjal dengan RIRS juga lebih efektif karena RIRS mempunyai akurasi yang tinggi. Tak hanya itu, RIRS memungkinkan dokter menjangkau area batu ginjal yang sulit dijangkau. 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Diduga Miliki Muatan Sensitif, Kemendikbudristek Kaji Kembali Buku Sastra untuk SMA
Next post HP Sejutaan dengan Performa Ekstrem, Kenapa Tidak